This site has limited support for your browser. We recommend switching to Edge, Chrome, Safari, or Firefox.

Postur Duduk Anak yang Benar Saat Belajar, Seperti Apa?

Saat mengerjakan tugas, anak mungkin mulai dengan posisi yang cukup nyaman. Lima belas menit kemudian, tubuhnya maju mendekati buku, satu kaki naik ke kursi, lalu kepala semakin menunduk. Perubahan posisi seperti ini sebenarnya wajar.

Yang perlu diperhatikan adalah apakah anak punya posisi dasar yang terasa nyaman dan mendapat dukungan, lalu tetap bebas bergerak selama belajar. Postur duduk anak yang baik tidak berarti tubuh harus tegak kaku sepanjang waktu.

Seperti Apa Postur Duduk Anak yang Baik?

Tidak ada satu pose yang harus dipertahankan dari awal sampai selesai belajar.

Anak akan bergerak ketika menulis, membaca, menggambar, mengambil alat tulis, atau melihat layar. Gerakan tersebut normal. Bahkan, mempertahankan satu posisi terlalu lama juga tidak ideal.

Sebagai titik awal, perhatikan apakah:

  • kepala berada dalam posisi nyaman dan tidak terus menunduk jauh;

  • bahu tetap rileks;

  • punggung mendapat dukungan saat anak bersandar;

  • siku berada pada posisi nyaman saat menulis;

  • paha mendapat tumpuan dari dudukan;

  • kaki mempunyai tempat untuk bertumpu;

  • anak masih punya ruang untuk mengubah posisi.

Kalau beberapa bagian tubuh harus terus bekerja keras hanya untuk mempertahankan posisi, setup belajarnya perlu diperiksa lagi.

1. Kepala Tidak Perlu Terus Menunduk ke Buku

Sedikit menunduk saat menulis atau membaca itu normal. Masalah mulai terlihat ketika kepala terus maju dan turun mendekati meja selama sebagian besar waktu belajar.

Coba lihat posisi anak dari samping.

Jika wajah terus berada sangat dekat dengan buku, ada beberapa kemungkinan. Buku mungkin terlalu jauh, pencahayaan kurang nyaman, tulisan sulit dilihat, atau posisi material belajar terlalu rendah.

Untuk membaca, buku bisa ditempatkan sedikit lebih tinggi atau dimiringkan agar anak tidak perlu terus membawa kepala mendekati permukaan meja.

Saat menulis, posisi tentu akan lebih rendah karena tangan membutuhkan permukaan yang stabil. Fokusnya bukan membuat kepala selalu tegak, melainkan mengurangi posisi ekstrem yang bertahan terlalu lama.

2. Jaga Bahu Tetap Rileks

Bahu adalah salah satu area yang cukup mudah diamati.

Minta anak menulis seperti biasa. Kalau bahunya terangkat mendekati telinga, posisi meja terhadap tubuh kemungkinan kurang sesuai.

Permukaan kerja yang terlalu tinggi membuat tangan harus ikut naik. Anak dapat mengompensasinya dengan mengangkat bahu atau membuka siku lebih lebar.

Sebaliknya, meja yang terlalu rendah bisa membuat tubuh turun dan maju.

Posisi yang lebih nyaman biasanya membuat lengan bisa mencapai meja tanpa bahu terus bekerja untuk menahannya.

Tidak perlu mengukur sudut siku dengan sangat presisi. Perhatikan saja apakah gerak tangan terlihat natural dan bahu tidak terus terangkat.

3. Punggung Perlu Dukungan, tetapi Tidak Harus Selalu Menempel ke Sandaran

Ada anggapan bahwa posisi duduk anak yang benar berarti punggung harus selalu lurus dan menempel sempurna pada sandaran.

Dalam praktiknya, anak akan bergerak.

Saat membaca santai, punggung mungkin lebih banyak menggunakan backrest. Ketika menulis atau menggambar, tubuh biasanya sedikit maju. Setelah itu anak bisa kembali bersandar.

Yang penting, kursi menyediakan posisi di mana punggung bisa mendapatkan dukungan ketika dibutuhkan.

Jika anak selalu duduk jauh di depan kursi dan hampir tidak pernah bisa mencapai sandaran, penyebabnya bisa berasal dari posisi meja atau ukuran kursi yang kurang sesuai.

Untuk pembahasan pemilihan kursi, Baca juga: Panduan Memilih Kursi Belajar Ergonomis untuk Anak

4. Posisi Siku Mengikuti Aktivitas di Meja

Saat anak menulis, menggambar, atau menggunakan keyboard, posisi siku sebaiknya terasa natural di dekat tubuh.

Kalau meja terlalu tinggi, siku dan bahu akan ikut naik. Kalau terlalu rendah, anak mungkin membawa tubuh semakin dekat ke tabletop.

Untuk aktivitas belajar biasa, gunakan posisi bahu yang rileks sebagai indikator sederhana. Lengan bawah bisa mencapai area kerja tanpa anak harus mengangkat seluruh lengan.

Posisinya juga tidak akan selalu sama.

Ketika menggambar pada area yang lebih luas, siku mungkin bergerak lebih bebas. Saat mengetik, kedua tangan lebih banyak berada di depan tubuh. Itu wajar.

Postur yang baik memberi ruang untuk gerakan tersebut.

5. Pinggul dan Paha Mendapat Tumpuan dari Dudukan

Cara anak menggunakan dudukan memberi banyak petunjuk.

Kalau anak terus melorot ke depan atau hanya menggunakan sebagian kecil ujung kursi, lihat apakah tubuh sebenarnya bisa duduk lebih ke belakang dengan nyaman.

Idealnya, sebagian besar paha mendapat tumpuan dari dudukan sementara area belakang lutut tetap punya ruang yang nyaman.

Tidak perlu memaksa lutut membentuk sudut tepat 90 derajat. Tubuh anak berbeda-beda, dan sudutnya akan berubah ketika mereka bergerak.

Yang lebih penting adalah posisi terasa stabil dan dudukan tidak memaksa anak maju menjauh dari backrest.

Jika kesulitannya berasal dari ukuran kursi, lihat buying guide khususnya daripada mencoba memperbaiki postur lewat instruksi verbal terus-menerus.

6. Kaki Perlu Punya Tempat untuk Bertumpu

Coba perhatikan kaki anak ketika belajar.

Jika tidak memiliki tumpuan, anak sering mencari posisi sendiri. Kaki bisa melilit bagian kursi, naik ke dudukan, atau terus bergerak mencari permukaan yang bisa diinjak.

Gerakan kaki tidak perlu dilarang. Anak memang lebih aktif bergerak dibanding orang dewasa.

Namun, setup dasarnya tetap perlu menyediakan tumpuan yang stabil.

Tumpuan tersebut bisa berasal dari lantai atau footrest jika posisi kursi perlu cukup tinggi agar anak nyaman terhadap meja.

Yang sebaiknya dihindari adalah memaksa kursi terlalu rendah hanya supaya kaki menyentuh lantai, sementara anak kemudian harus mengangkat bahu untuk mencapai meja.

Meja, kursi, dan kaki perlu dilihat sebagai satu setup.

7. Posisi Buku Berbeda dengan Posisi Monitor

Material belajar juga memengaruhi posisi tubuh.

Saat Membaca Buku

Buku yang sepenuhnya datar membuat pandangan lebih banyak mengarah ke bawah. Untuk sesi membaca, buku dapat sedikit dinaikkan atau dimiringkan jika setup memungkinkan.

Tidak perlu terlalu tinggi. Anak tetap harus bisa membaca dengan nyaman tanpa mendekatkan wajah terus-menerus.

Saat Menulis

Menulis membutuhkan permukaan yang lebih stabil. Buku atau kertas biasanya berada lebih rendah dibanding posisi membaca.

Sedikit menunduk masih normal.

Saat Menggunakan Monitor

Layar sebaiknya berada di depan anak sehingga kepala tidak perlu terus berputar ke satu sisi. Tingginya juga perlu membuat area utama layar mudah dilihat tanpa mendongak atau menunduk berlebihan.

Laptop membutuhkan perhatian lebih karena keyboard dan layarnya menyatu.

Jika dipakai cukup lama, laptop dapat dinaikkan dan dipasangkan dengan keyboard serta mouse terpisah. Dengan begitu, posisi layar tidak sepenuhnya ditentukan oleh posisi tangan.

8. Jangan Meminta Anak "Duduk Tegak" Terus-Menerus

“Duduk yang benar.”

“Jangan bungkuk.”

“Tegakkan punggung.”

Kalimat seperti ini mungkin membantu sesaat. Namun jika meja atau kursinya memang tidak cocok dengan tubuh anak, beberapa menit kemudian posisi lama biasanya kembali lagi.

Lebih berguna untuk mencari penyebabnya.

Kalau anak terus maju, apakah buku terlalu jauh? Kalau bahu selalu terangkat, apakah meja terlalu tinggi? Kalau kaki terus dinaikkan, apakah anak tidak mempunyai tumpuan?

Postur sering kali merupakan respons terhadap lingkungan.

Karena itu, memperbaiki setup bisa lebih efektif daripada terus mengingatkan anak untuk mempertahankan satu pose tertentu.

9. Berubah Posisi Itu Normal

Anak tidak perlu belajar dalam posisi yang sama selama satu jam penuh.

Mereka boleh bersandar, maju sebentar untuk menulis, mengubah posisi kaki, atau berdiri sejenak.

Yang perlu dihindari adalah satu posisi ekstrem yang bertahan terlalu lama dan membuat anak terlihat tidak nyaman.

Coba selingi sesi belajar dengan:

  • berdiri sebentar;

  • berjalan mengambil minum;

  • meregangkan tubuh;

  • mengganti aktivitas membaca dan menulis;

  • mengubah posisi duduk.

Microbreak tidak harus menjadi rutinitas yang rumit. Perubahan aktivitas kecil sudah memberi tubuh kesempatan keluar dari satu posisi.

Tanda Setup Belajar Perlu Dicek Kembali

Beberapa kebiasaan bisa menjadi petunjuk bahwa masalahnya bukan sekadar postur.

Perhatikan jika anak sering:

  • maju terus ke ujung kursi;

  • mengangkat bahu saat menulis;

  • mendekatkan wajah sangat dekat ke buku atau layar;

  • duduk miring karena ruang kaki terbatas;

  • tidak pernah menggunakan sandaran;

  • terus mencari tempat untuk menopang kaki;

  • mengeluhkan meja atau kursi terasa tidak nyaman.

Jangan langsung menganggap semua tanda tersebut berasal dari kebiasaan buruk. Lihat kembali hubungan tubuh, kursi, meja, dan material belajar.

Jika anak mengalami nyeri yang menetap, kebas, kesemutan, atau keluhan fisik lain yang terus muncul, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan yang kompeten lebih tepat daripada hanya mengubah setup belajar.

Checklist Postur Duduk Anak Saat Belajar

Saat anak mulai belajar, cek secara sederhana:

  • Kepala berada pada posisi nyaman, tidak terus maju mendekati meja.

  • Bahu terlihat rileks.

  • Tangan dapat mencapai area belajar dengan mudah.

  • Punggung memiliki akses ke sandaran kursi.

  • Paha mendapat tumpuan yang cukup.

  • Kaki mempunyai tempat untuk bertumpu.

  • Buku atau layar mudah dilihat.

  • Anak dapat berganti posisi dengan bebas.

  • Area bawah meja tidak membatasi gerakan kaki.

  • Anak mengambil jeda dari posisi duduk secara berkala.

Checklist ini bukan aturan yang harus dipenuhi dengan sudut tubuh sempurna. Gunakan sebagai cara cepat untuk melihat apakah setup belajar mendukung tubuh anak dengan baik.

Postur yang Baik Dimulai dari Fit dan Kebiasaan Bergerak

Postur duduk anak yang benar bukan satu pose yang harus dipertahankan sepanjang sesi belajar. Posisi tubuh akan berubah mengikuti aktivitas.

Yang lebih penting adalah menyediakan posisi dasar yang nyaman: kepala tidak terus menunduk, bahu rileks, punggung memiliki dukungan, tangan mudah mencapai meja, dan kaki mendapatkan tumpuan.

Setelah itu, biarkan anak bergerak.

Jika setup meja atau kursi terlihat kurang sesuai dengan tubuhnya, gunakan panduan pemilihan yang lebih spesifik:

Baca juga: Panduan Memilih Meja Belajar Anak yang Sesuai Tinggi Badan

Baca juga: Panduan Memilih Kursi Belajar Ergonomis untuk Anak

Untuk melihat pilihan furnitur belajar anak dalam satu tempat, kunjungi Kids Collection PEXIO.

Cart

No more products available for purchase

Your Cart is Empty